Rabu, 19 November 2014

Pendidik Utama (Part 1)

Apalah artinya ilmu jika hanya menjadi buah bibir dan tumpukan lembaran kertas bertulis teori-teori indah di atas meja. Apalah artinya ilmu jika hanya menjadi pemuas dahaga intelektual akal tanpa aktualisasi nyata. Apalah artinya ilmu jika hanya menjadi lambang kearifan dan status sosial nan penuh kepalsuan.

Aku, kamu dan dia sungguh jengah dengan potret pendidikan hari ini. Di semua tingkatan pendidikan kita, tengoklah apa yang terjadi pada anak usia dini, air mata belum kering menyaksikan predator seksual melakukan tindakan biadab pada anak-anak itu. Truma membekas hebat pada jiwa-jiwa suci tak berdosa http://megapolitan.kompas.com/read/2014/10/13/1500242/Seto.Korban.Pencabulan.di.JIS.Alami.Trauma.karena.Tindakan.Asusila. Tengoklah pendidikan dasar, betapa mereka begitu tega melakukan kekerasan dan pengoroyokan menganiaya teman sebaya tanpa belas kasihan http://m.tempo.co/read/news/2014/10/13/058613861/Kasus-SD-Bukittinggi-Tim-Pencari-Fakta-DiturunkanTengoklah pendidikan menengah metapa mereka begitu lincah merekam adegan dewasa dengan menjadi aktor dan artisnya sendiri http://www.tribunnews.com/regional/2014/10/23/video-mesum-siswi-smp-diunggah-ke-situs-youtubeTengoklah pendidikan atas, remaja dan dunianya tak mau kalah dengan potret buramnya, kekerasan (tawuran), free seks, aborsi menghiasi warna warni pemberitaan tentang mereka di media sehari-hari  http://health.liputan6.com/read/2062737/sepertiga-kasus-aborsi-dilakukan-siswi-sma. Cukup!!! Kita hanya perlu membuka google dan menemukan seabrek data dan fakta yang demikian.

Semua prihatin, lembaga pendidikan menjadi sorotan, pilar utama pendidikan guru dan tenaga pendidik lainnya menjadi sorotan. Guru di tanganmu peradaban besar akan di torehkan jika keberhasilan mentransfer ilmu dan pengetahuan berhasil melekat kuat pada anak didikmu. Ilmu ini akan berbuah indah andai apa yang diajarkan dan tertanam kuat dalam diri-diri mereka, tidak hanya di bibir, singgah di otak, tapi hingga ke hati dan berpengaruh pada perilaku mereka.

Tapi tunggu, benarkah keberhasilan pendidikan hanya ada ditangan para guru? Hmm mari merenungkan kembali bukankah sejak lama telah tertoreh bahwa pendidik pertama dan utama itu adalah ibu? Perempuan dengan gelar kemuliaan "ibu" telah terukir fungsi dan peranan utamanya sebagai pendidik utama. Peranan besar dan penting ini disadari betul oleh R.A. Kartini tokoh legendaris yang mengutarakannya dalam sebuah surat kepada Prof. Anton dan istrinya : “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902].

Ibu benarlah kemuliaanmu terletak pada keberhasilan mendidik generasi, dengan berbekal ilmu seorang ibu wajib memiliki kemampuan sebagai pendidik  utama, sebagai orang terdekat karakter ibu akan mengalir pada anak-anaknya. Ibu...bahkan sejak awal abad ke 19 seorang perempuan Indonesia telah menoreh dalam tatanan sejarah bahwa perempuan berpendidikan wajib tercerdaskan dengan memiliki satu tujuan agar mereka mampu melaksanakan fungsi dan kewajiban utamanya. Sebagai pendidik dan madrasah pertama. Rusaknya perempuan bisa menjadi barometer rusaknya masyarakat, ahh sejak dulu qoutes ini sangat familiar. Kita tentu tak berbeda pendapat.

Pertanyaannya apakah kini peranan dan fungsi sebagai pendidik utama ini sdh terlaksana dengan baik? Jika tidak mungkin ini jawaban untuk semua permasalahan diatas. Mari me-reposisi kembali peranan ibu sebagai pendidik pertama dan utama dalam masyarakat.*bersambung....

Tidak ada komentar: