Sabtu, 26 Juli 2014

Terima Kasih Musa Inspirator Cilik Hafiz Indonesia

Hari istimewa Jumat selalu menjadi hari istimewa. Kemarin bertepatan dengan 27  Ramadhan 1435 H,  Hafiz Indonesia yang ditayangkan di RCTI menayangkan wisuda akbar.  Puncak acara perhelatan Hafiz Indonesia ini akhirnya mengantarkan Musa (5,5 tahun) asal Bangka Belitung sebagai juara pertama Hafiz Indonesia 2014, setelah nilai akhir yang berhasil dia kumpulkan mengungguli dua hafiz cilik lainnya yaitu Aza  (7 tahun) asal Jambi dan Fuadi (7 tahun) asal Bima Nusa Tenggara Barat.

Penilaian oleh tiga otang juri yakni Syeikh Ali Saleh Muhammad Ali jaber, Ustadz Dr. Amir Faisal Fath dan Ustadzah Lulu Susanti berdasarkan pada hafalan ayat dan pelafadzan makhroj  dan sifat-sifat huruf  hijayyah saat mereka tilawah.   Ketiga peserta tiga besar hafiz indonesia memiliki kelebihan masing-masing, Musa dengan hafalan yang sangat kuat mencapai 29 Juz, Aza dengan lantunan irama merdu yang menyentuh hati, dan Fuadi dengan kharismanya saat membacakan alqur'an begitu  khitmat.  Acara ini juga menghadirkan seluruh finalis Hafiz Indonesia sejak episode perdana yang tayang awal akhir juni lalu, ada 29 anak penghafal alquran bersama orang tuanya ikut  meramaikan acara ini  dari seluruh penjuru tanah air.

Musa, Aza dan Fuadi dipenayangan wisuda akbar kemarin di tes menjadi imam, mereka membacakan surat Al-fatihah dan surat-surat pilihan mereka.  Aza tampil pertama memilih surat Al-Mulk juz ke-29, di ikuti Musa membacakan Ash-Shoffat juz ke-23, dan Fuadi membacakan surah Al-Haqqah juz ke- 29. Musa juga sempat di uji oleh tiga orang penonton menyambung ayat surah  Fathir  juz ke- 22, At-Taubah juz ke-10, dan surah Al-Hajj juz ke-17.  Subhanallah hafalannya mumtaaz!!

Banyak kejutan di Hafiz Indonesia kemarin, Musa pemenang pertama berhak atas umroh dan uang tunai sebesar 100 juta rupiah, Aza sebagai pemenang kedua berhak atas umroh dan uang tunai sebesar 75 juta rupiah, dan Fuadi sebagai pemenang ketiga berhak atas umroh dan uang tunai sebesar 50 juta rupiah.  Selain itu mereka juga mendapat undangan  berhaji dari kerajaan Arab Saudi yang disampaikan melalui duta besarnya di Indonesia pada pelaksannan haji tahun 2014 ini.   Hadiah kejutan lain diperuntukkan untuk 7 finalis  yang masuk 10 besar mendapatkan undangan berumroh dari kerajaan Arab Saudi. Semua hadiah kejutan ini baru diketahui peserta di akhir acara. Tapi tahukah kita, apa yang disampaikan  Aza tentang makna juara, dia hanya ingin menjadi juara dimata Allah dengan Alqur'an yang telah dihafalkannya, yah mengutip kata Syeikh Ali Saleh Muhammad Ali jaber dengan membaca dan menghafalkan Alqur'an tak ada yang kalah semua telah menjadi pemenang, sungguh salut dengan anak-anak ini!!

Panggung hafiz indonesia selalu mengharu biru, setiap episodenya selalu membuat penonton berlinang air mata. Di usia belia, anak-anak hebat ini dengan bacaan Al-Qu'rannya telah mampu membawa syiar islam dengan Al-Qu'ran dengan memotivasi indonesia untuk dekat dengan Al-Qur'an. Mereka bukan lagi milik daerahnya, tapi milik indonesia. Terima kasih Musa telah menginspirasi Indonesia. Sugguh Al-Quran memulaikan pembacanya di dunia dan di akhirat.

*Repotasi singkat setelah menyaksikan Wisuda Akbar Hafiz Indonesia

Kdi, 26 Juli 2014
Catatan pagi @tatikbahar


Becak berlabel "Kebaikan"

A: "Heii, kamu kann!!!!" dengan antusias menyebut namaku
B: " Iye pak, saya.." sambil tersenyum membalas sapaannya...
A: " Langgananku ini waktu kecil.."
B: "Iye kasian pak, saya langganan becakta dulu..." ucapku menimpali

Percakapan ini terjadi kemarin siang, saya dan beberapa teman sedang berjalan bersama saat bertemu bapak ini, terakhir bertemu seingat saya bapak ini masih menganyuh becak sekalipun dengan kaki yang cacat (kaki beliau hanya satu- red). Dia masih mengingatku dengan jelas rupanya. Bapak yang dulu semasa  SMP dan SMA selalu kutumpangi becaknya. Kini setelah lorong rumah kami dulu jalannya diperlebar, pengayuh becak  sudah tersisih dengan ojek, maka pindahlah mereka ke lorong lain yang  jalurnya lebih pendek.
Semua pasti diantara kita pernah melihat kendaraan roda tiga ini, bagi kota-kota kecil seperti kota kami becak masih menjadi alternatif transportasi bagi lorong-lorong kecil yang tak terjangkau angkot.

Bayangkanlah seorang bapak pengendara becak  mengayuh becaknya dengan mengandalkan satu kaki karena kakinya yang satu puntung dan diamputasi. Dulu, diawal mengenalnya bagi  saya seorang gadis kecil becak dengan pengendara cacat membuatku takut dan khawatir, jangan-jangan bapak ini tak bisa mengantarku sampe tujuan, kasihan juga tak tega bercampur jadi satu.  jadi setiap bertemu dengan becaknya saya memilih memanggil becak lain sampai suatu hari dia berkata kepadaku "kenapa nak, kenapa tak mau naik becak saya., saya masih kuat bawa becak,  jangan takut., daripada saya minta-minta, lebih bagus bawa becak to..." ucapan ini seakan membuka pikiranku, dan jadilah sejak saat itu saya tak lagi menolak menumpangi becaknya pulang dan pergi sekolah. Pelajaran berharga dari bapak pengendara becak  pertama.

Jelang memasuki perguruan tinggi, kisah bersama bapak pengendara becak berlanjut.  Di Kota Daeng tempatku menuntut ilmu dan jauh dari keluarga,  menjadi anak kos-kos-an adalah pilihan.  Jadilah saya dan beberapa teman mengontrak sebuah rumah tak jauh dari kampus.  Becak sekali lagi menjadi alat transportasi yang mengantarkan kami keluar masuk lorong, tak ayal lagi karena sering menumpang becak ada pengendara becak yang menjadi langganan kami, kami biasa menitipkan belanjaan dari pasar untuk diantar kerumah saat harus pergi ke tempat lain setelah belanja, biasa pula kami minta tolong diperbaiki pagar atau memotong rumput dihalaman.  Saat musim kemarau dan air PDAM macet, bantuan daeng becak ini sangat terasa (kami memanggilnya daeng sebagai bentuk pengormatan-red), tanpa diminta dia biasa menghampiri rumah kami dan berkata "Habismi airmu..mari kuambilkanko' air sumur..".  Kami biasa memberinya upah alakadarnya, tapi beliau tak pernah meminta besaran rupiah yang harus kami berikan ke dia.  Seikhlasnya begitulah dia.  Beberapa tahun setelah menyelesaikan pendidikan di Kota Daeng saya sempat berkunjung dan mencari "Daeng Sabare" begitu kami biasa memanggilnya, saat pertemuan terkhir itu, saya menemuinya dalam keadaan lumpuh dan tuli, penyakit yang tiba-tiba datang menyerangnya.

Di masa sakitnya 'daeng sabare' tak bisa lagi mengontrak rumah hingga salah seorang tetangganya merelakan satu kamar kontrakannya untuk di huni daeng sabare dan keluarganya.  beliau memang terkenal baik hati, anak-anak kecil berseragam merah putih seingat saya yang jalan kaki keluar masuk lorong sering diangkut gratis oleh Daeng Sabare.  Bahkan seorang langganan becak Daeng Sabare ada yang dengan rela mengurus pengobatan Daeng Sabare, mengantarnya ke bolak-balik berobat jalan ke rumah sakit semua dilakukan dengan tulus dan ikhlas, begitu banyak yang berbuat baik untuk Daeng Sabare.   Jalan-jalanlah ke lorong kami  tak ada yang tak kenal pengendara becak "Daeng Sabare" dan kebaikan hatinya. balasan kebaikan selalu kebaikan. Pelajaran berharga dari bapak pengendara becak  kedua.

Belum lama ini, suatu pagi lagi-lagi saat menumpangi becak, saya telah sampai ditempat tujuan dan ingin membayar ongkos becak yang saya tumpangi, pengendara becak itu berkata "Tidak usah bayar de, gratis saja...saya biasa memang kasi gratis penumpang pertamaku pagi-pagi". Katanya dengan ringan sambil tersenyum.  Hahhh jawaban yang tidak saya sangka-sangka. Pagi-pagi menerima sedekah dari abang becak..Hehee..Luar Biasa! Pelajaran berharga dari bapak pengendara becak  ketiga.

*Terima kasih bapak pengendara becak. Mungkin inilah yang disebutkan jika semua tempat adalah sekolah, maka setiap orang yang ditemui adalah guru. Tk



#HappyFriday, 27 Ramadhan^^ #Jumatberkah #RamadhanAl-Mubarak

Catatan pagi,
@tatikbahar


Tren Bongkar Pasang Kerudung

#Kemuliaan dan selembar kain
 
#Selembar kain tetap selembar kain

Selembar kain ini menjadi bernilai saat pemakainya sadar bahwa ini adalah tanda ketaatan bukan sekedar pakaian.,

Selembar kain ini akan bernilai saat kesadaran hadir tentang kewajiban menunaikan titah sang penguasa alam bukan hanya sekedar penutup kepala.,

Selembar kain ini akan bernilai saat kesadaran hadir bahwa muara yang dituju dari hijab adalah keridhoan Allah bukan sekedar menggugurkan kewajiban.,

Selembar kain ini boleh jadi menjadi bukti ikatan antara penguasa kehidupan dan hambanya.,
Bukankah Dia bertanya Alastu Birabbikum? (bukankah Aku tuhanmu?) kita pun menjawab qaaluu balaa syahidnaa.. “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. Hari dimana Roh berjanji akan ketaatan dan penghambaan pada-Nya.,

Janji yang akan dimintai pertanggungjawaban, inilah yang membuat selembar kain ini begitu berharga. Selembar kain yang menentukan posisi seorang wanita dalam pandangan Tuhannya,. Selembar kain tetap selembar kain tapi selembar kain bisa membawa kemuliaan dengan ketaatan pemakainya.,

Lalu apa yang salah dengan melepas kain itu? memasangnya kembali, lalu melepasnya lagi? Hujatan, hinaan, dan juga celaan pantaskah untuknya?

Agama ini nasehat dan hati ini bagai buku berbolak-balik. Angin sepoi membuatnya bertahan, angin kencang membuatnya bertebaran, selalu ada kesempatan kembali, selalu ada kesempatan memperbaiki lembar-lembat halamannya. Saat nasehat tak mampu lagi menyentuh hati, Doa selalu jadi pilihan terbaik, semoga Allah memberi dan menjaga hidayah untuk hati-hati ini. Doa adalah pengikat kita, karena aku dan kamu tak ada yang tau ujung dan akhir ceritamu, juga ujung dan akhir ceritaku.. semoga kisah kita dan semua yang sempat membaca tulisan ini berakhir penuh keberkahan, berakhir penuh ketaatan…Aamiin Allahumma Aamiin…

“Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik (Wahai Zat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)”

#tren bongkar pasang kerudung

#nasehatidiri


Kdi, 24072014
@tatikbahar