Tampilkan postingan dengan label Mom&Son. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mom&Son. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 November 2014

Pendidik Utama (Part 1)

Apalah artinya ilmu jika hanya menjadi buah bibir dan tumpukan lembaran kertas bertulis teori-teori indah di atas meja. Apalah artinya ilmu jika hanya menjadi pemuas dahaga intelektual akal tanpa aktualisasi nyata. Apalah artinya ilmu jika hanya menjadi lambang kearifan dan status sosial nan penuh kepalsuan.

Aku, kamu dan dia sungguh jengah dengan potret pendidikan hari ini. Di semua tingkatan pendidikan kita, tengoklah apa yang terjadi pada anak usia dini, air mata belum kering menyaksikan predator seksual melakukan tindakan biadab pada anak-anak itu. Truma membekas hebat pada jiwa-jiwa suci tak berdosa http://megapolitan.kompas.com/read/2014/10/13/1500242/Seto.Korban.Pencabulan.di.JIS.Alami.Trauma.karena.Tindakan.Asusila. Tengoklah pendidikan dasar, betapa mereka begitu tega melakukan kekerasan dan pengoroyokan menganiaya teman sebaya tanpa belas kasihan http://m.tempo.co/read/news/2014/10/13/058613861/Kasus-SD-Bukittinggi-Tim-Pencari-Fakta-DiturunkanTengoklah pendidikan menengah metapa mereka begitu lincah merekam adegan dewasa dengan menjadi aktor dan artisnya sendiri http://www.tribunnews.com/regional/2014/10/23/video-mesum-siswi-smp-diunggah-ke-situs-youtubeTengoklah pendidikan atas, remaja dan dunianya tak mau kalah dengan potret buramnya, kekerasan (tawuran), free seks, aborsi menghiasi warna warni pemberitaan tentang mereka di media sehari-hari  http://health.liputan6.com/read/2062737/sepertiga-kasus-aborsi-dilakukan-siswi-sma. Cukup!!! Kita hanya perlu membuka google dan menemukan seabrek data dan fakta yang demikian.

Semua prihatin, lembaga pendidikan menjadi sorotan, pilar utama pendidikan guru dan tenaga pendidik lainnya menjadi sorotan. Guru di tanganmu peradaban besar akan di torehkan jika keberhasilan mentransfer ilmu dan pengetahuan berhasil melekat kuat pada anak didikmu. Ilmu ini akan berbuah indah andai apa yang diajarkan dan tertanam kuat dalam diri-diri mereka, tidak hanya di bibir, singgah di otak, tapi hingga ke hati dan berpengaruh pada perilaku mereka.

Tapi tunggu, benarkah keberhasilan pendidikan hanya ada ditangan para guru? Hmm mari merenungkan kembali bukankah sejak lama telah tertoreh bahwa pendidik pertama dan utama itu adalah ibu? Perempuan dengan gelar kemuliaan "ibu" telah terukir fungsi dan peranan utamanya sebagai pendidik utama. Peranan besar dan penting ini disadari betul oleh R.A. Kartini tokoh legendaris yang mengutarakannya dalam sebuah surat kepada Prof. Anton dan istrinya : “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902].

Ibu benarlah kemuliaanmu terletak pada keberhasilan mendidik generasi, dengan berbekal ilmu seorang ibu wajib memiliki kemampuan sebagai pendidik  utama, sebagai orang terdekat karakter ibu akan mengalir pada anak-anaknya. Ibu...bahkan sejak awal abad ke 19 seorang perempuan Indonesia telah menoreh dalam tatanan sejarah bahwa perempuan berpendidikan wajib tercerdaskan dengan memiliki satu tujuan agar mereka mampu melaksanakan fungsi dan kewajiban utamanya. Sebagai pendidik dan madrasah pertama. Rusaknya perempuan bisa menjadi barometer rusaknya masyarakat, ahh sejak dulu qoutes ini sangat familiar. Kita tentu tak berbeda pendapat.

Pertanyaannya apakah kini peranan dan fungsi sebagai pendidik utama ini sdh terlaksana dengan baik? Jika tidak mungkin ini jawaban untuk semua permasalahan diatas. Mari me-reposisi kembali peranan ibu sebagai pendidik pertama dan utama dalam masyarakat.*bersambung....

Sabtu, 18 Oktober 2014

Benarkah Memberikan ASI Eksklusif Sangat Sulit?

Beberapa waktu ini secara kebetulan beberapa kerabat dan handai tolan dekat di karunia bayi-bayi cantik dan sehat alias baru saja lahiran. Sebagai bentuk ikut merasakan kebahagiaan mereka maka menjenguk bayi-bayi mungil dan ibu yang baru yang baru lahiran itu kami lakukan. Sebagai pemerhati masalah kesehatan masyarakat khususnya kesehatan ibu dan anak (KIA) maka dibalik kebahagian terselip keprihatinan. Dari lima bayi-bayi yang kami kunjungi hanya satu bayi yang tetap mendapatkan ASI eksklusif tanpa bantuan susu formula. Pertanyaanya benarkah memberikan ASI eksklusif sangat sulit? 

Pertanyaan ini mungkin muncul dari ibu yang memiliki bayi yang berusia di bawah enam bulan. Bayi ibu mengalami pertumbuhan yang signifikan pada enam bulan pertama, masa pemberian ASI ekslusif dan bayi akan tumbuh optimal jika diberikan makanan terbaik yaitu ASI. Setelah masa ASI eksklusif pertumbuhan bayi dan balita ditentukan oleh kualitas makanan tambahan yang diberikan. ASI eksklusif masih menjadi tantangan tersendiri bagi ibu pasca melahirkan, mempertahankan konsumsi bayi hanya ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain ternyata bukan hal yang mudah. Demikian kenyataan di lapangan.

Banyak sudah hasil penelitian yang memaparkan faktor yang menyebabkan sulitnya pemberian ASI eksklusif, mulai dari produksi ASI kurang, bayi tidak bisa mengisap karena puting susu ibu bermasalah, ibu bekerja, pengaruh promosi susu bayi yang begitu gencar, ditambah lagi pengetahuan yang kurang akan metode laktasi yang baik dan benar. Sungguh disayangkan jika enam bulan pertama masa awal kehidupan yang menentukan kualitas hidup bayi di masa mendatang ini terlewatkan. 

Tumbuh kembang bayi dapat diukur. Ukuran yang bisa digunakan untuk menggambarkan tumbuh kembang pada usia menyusui ialah pengukuran berat badan (BB) dan panjang badan (PB) bayi. Pada bayi yang lahir cukup bulan, normalnya setelah usia lima bulan BB bayi bertambah menjadi dua kali BB lahir, pada usia satu tahun menjadi tiga kali BB lahir, dan pada usia dua tahun menjadi empat kali BB lahir. Di masa 0-6 bulan, pada triwulan I kenaikan BB yang baik 700-1000 g/bln, dan pada triwulan II 500-600 g/bln. Dalam sebuah riset yang dilakukan di wilayah pesisir Wakorumba Buton Utara pada 32 sampel bayi berusia 7-12 bulan nampak jelas perbedaan yang antara berat badan dan panjang badan pada bayi ASI Eksklusif dan Non ASI Eksklusif. Begitu pula dengan penyakit infeksi, bayi dengan ASI Non Ekslusif lebih rentan terhadap penyakit infeksi.

Kita semua tahu bahwa pemberianASI sampai kapan pun tak tergantikan, penyebab kegagalan pemberian ASI sebagai makanan pertama dan utama bayi bisa beragam, kualitas dan kuantitas makanan ibu, pengaruh fisik dan psikologis ibu, stress, ketenangan, ketegangan, kesiapan mental ibu dan pemberian makanan selain ASI terlalu dini. Kemampuan laktasi ibu memang berbeda-beda tetapi mempersiapkan ibu agar bisa memberikan ASI eksklusif memang harus direncanakan dan dipersiapkan. Pengetahuan ibu akan ASI, cara pemberian ASI, kualitas ASI, dukungan keluarga semua harus dipersiapkan sejak sebelum kelahiran bahkan penting untuk semua calon ibu. Sebagai lautan kehidupan, harapannyaibu memegang peranan penting jika berhasil membina dan memelihara laktasi dengan kondisi kesehatan yang baik ASI Eksklusif bagi bayi terpenuhi hingga jangka waktu enam bulan. Alangkah indahnya!

#Catatan kecil

#Untukmu  bunda dan calon bunda

#Persiapkan diri sebaik mungkin menjadi bunda :)

salam sehat
@tatikbahar

Senin, 29 September 2014

Untukmu Bunda: Mengenal Tumbuh Kembang Balita

Sekali lagi masa balita masa emas yang tak boleh dilewatkan begitu saja. Keterlambatan masa pertumbuhan dalam kandungan dapat dikejar dengan memaksimalkan pertumbuhan pada usia-usia emas ini. Mengukur pertumbuhan dan perkembangan pada balita dapat membantu ibu mengontrol status gizi buah hatinya. Pertumbuhan balita dapat di ukur dengan berbagai cara, salah satu cara yang lazim digunakan adalah dengan membandingkan antara Berat Badan (BB) dan TB balita (BB/TB). Pertanyaannya dimanakah ibu dapat mengontrol pertumbuhan balitanya? Posyandu jawabannya. Di Posyandu penimbangan adalah salah satu menu utama, setiap bulan dengan mengunjungi posyandu ibu dapat mengontrol pertumbuhan buah hatinya.

Selain pertumbuhan, indikator lain yang digunakan untuk mengukur status gizi balita  adalah memantau perkembanganya. Jika pertumbuhan sangat berkaitan erat dengan aspek fisik maka perkembangan berkaitan dengan pematangan fungsi/organ individu. Faktor biologis, fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan memiliki peranan besar pada pola ini.  Sebagai contoh apa yang ibu lakukan saat si kecil sulit makan? Pola pengasuhan sangat menentukan untuk menjawab pertanyaan ini. Mari kita simak kutipan percakapan berikut ini

“Saya biarkan saja begitu.. apa yang dia mau saya ikuti saja toh..karena biasa kalau dia tidak mau makan begitumi…”

“Yah..dibiarkan begitu saja..karena mau di apa…kalau dipaksa baru menangis kasian juga..jadi nanti lagi dia minta baru saya kasi..kalau tidak yah nanti dia menangis baru saya kasi makan berarti kan dia lapar mi itu…”

“Saya ganti-ganti makanannya…kalau malas makan biasa saya ganti-ganti makanannya supaya dia tidak bosan toh..”

“Ituji..paling saya paksa makan..makanji tapi hanya dua sendok, baru itumi dia tidak maumi lagi makan…malas sekali makan…”

“Saya beri itu..apakah obat yang menambah nafsu makan…vitamin..saya beri saja vitamin..”

Jawaban yang diberikan ibu sangat beragam, jawaban ini sangat tergantung kondisi biologis ibu (umur, penyakit yang diderita, hormon), kondisi fisik (keadaan rumah, cuaca, musim), kondisi psikologis (stress, kualitas interaksi anak-ibu, motivasi, niat), kondisi sosial (penghasilan keluarga, pekerjaan, pendidikan, jumlah anak). Dari faktor-faktor inilah yang menentukan jenis makanan yang diberikan juga frekuensi pemberian makanan pada balita. Faktor-faktor inilah yang membentuk pola pengasuhan makan pada balita.
Akhirnya pada masa-masa emas ini anak balita memandang segala sesuatu hanya dari sudut pandangnya. Ia adalah raja/ratu kecil yang harus dipenuhi semua keinginannya termasuk urusan makanan. Tapi bukanlah dalam sebuah kerajaan selalu ada permasuri, ibu suri yang selalu bisa menaklukkan hati raja dan ratu kecilnya, permaisuri itulah bunda. Untuk memaksimalkan pertumbuhan dan perkembangan pada usia emas ini, Yuks mengenal lebih jauh tumbuh kembang balita :)

#Catatan kecil

#Untukmu  bunda dan calon bunda

#Persiapkan diri sebaik mungkin menjadi permaisuri :)

salam
@tatikbahar

Rokok dan Kehamilan

MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN

Pesan ini begitu familiar. Ibarat pesan berantai selama kurang lebih 11 tahun sejak tahun 2002-2013 pesan ini adalah tertera pada kemasan rokok dan produk tembakau lainnya yang memperlihatkan beragam efeknya pada kesehatan manusia. Kini dengan berlakunya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 109 tahun 2012, kemasan tembakau maupun iklan harus menyertakan gambar peringatan terdiri 40% dari bungkus rokok ditambah pesan ini “Merokok Membunuhmu” (sumber: wikipedia).

Khusus rokok dan kehamilan suatu waktu saya berkesempatan menyimak sebuah percakapan sebagai berikut:

“Ada yang merokok ini (menunjuk suaminya).. biasa dia merokok dekatku… pernah saya pindah karena lain-lain bau rokoknya..dia tau tetapi biar dilarang dia masih merokok.. asapnya itu mau kemana pasti sama saya.. kalau dia merokok disampingku saya larikan karena saya tidak bisa cium bau rokok… bau asap rokoknya suamiku itu dia tahu tapi dia tidak pergi…”

Ibu ini sedang hamil 8 bulan dan bercerita tentang suaminya, saat dikonfirmasi ke suaminya, suaminya berdalih :

“Karena kebiasaan tidak sadar..biasa kita cerita-cerita ada rokok ditangan, tidak sadar…”

Di suasana lain, pada ibu hamil yang berbeda :

“Suamiku merokok..saya tahu bahayanya seperti yang tertulis disampul rokok itu, dia bisa merokok didekatku tapi saya tidak pindah…”

“Suamiku merokok… biasa setelah makan dia langsung merokok… sering disampingku… saya dengar ibu hamil tidak bisa terkena asap rokok, tetangga yang bilang begitu… saya sampaikan ke suami dia bilang saya tahu itu semua (kata suami saya)… tetapi satu hari habis satu bungkus rokok…”

Bahaya rokok terhadap kehamilan sudah banyak ditemukan pada berbagai penelitian, karbon monoksida dari asap rokok dapat mengikat Hb dalam darah ibu hamil yang menyebabkan distribusi makanan dan suplai makanan ke janin terganggu. Kondisi ini beresiko terhadap kesehatan ibu hamil dan perkembangan janin. Pada penelitian Subramoney S di Mumbay India menyatakan bahwa wanita hamil yang terpapar asap rokok berisiko 1,7 kali lebih besar menderita anemia dibandingkan dengan wanita hamil yang tidak merokok.

Untuk fenomena rokok dan kehamilan biasanya 1) ibu hamil terpapar asap rokok dari suami mereka (2) Perilaku merokok suami secara sadar dan tidak sadar dilakukan, sekalipun istri sedang hamil (3) Ibu hamil mengetahui bahaya rokok bagi kehamilan dan janin tapi tidak bisa menghindari keterpaparan asap rokok (4) Suami telah mengetahui bahaya rokok bagi kehamilan dan janin tapi tetap merokok di dekat istri yang sedang hamil dikarenakan faktor kebiasaan.

Tentang kebiasaan, sulitnya merubah kebiasaan. Kebiasaan adalah arti yang menunjuk pada suatu kenyataan yang bersifat obyektif sebagai perwujudan kemauan dan keinginanan. Rokok sebagai salah satu faktor risiko yang membahayakan kehamilan sayang sekali efeknya tidak langsung terasa, namun jika faktor ini terakumulasi pada berbagai faktor risiko lain misalnya anemia, pendarahan, dan preklamsia dapat memperbesar risiko kematian karena melahirkan.

Menjaga ibu hamil dari keterpaparan asap rokok mengurangi satu risiko potensi bahaya selama kehamilan.

Salam Sehat
@tatikbahar

Sulitnya Melakukan Pemeriksaan Kehamilan Rutin Pada Awal Kehamilan

Kehamilan adalah anugerah bagi seorang perempuan. Alamiahnya setiap perempuan yang mengalami  kehamilan mengalami perubahan fisiologis dan psikologis, karenanya selama masa ini seorang perempuan perlu mendapatkan perhatian dan perawatan khusus. Pemeriksaan kesehatan bagi ibu hamil dikenal dengan istilah ANC (antenatal care) yakni pemeriksaan berkala 4 kali selama kehamilanya; 1 kali pemeriksaan di trimester satu (usia 1-3 bulan kehamilan), satu kali pemeriksaan di trimester dua (4-6 bulan kehamilan), dan dua kali pemeriksaan pada trimester kedua (7-9 bulan kehamilan).
Sayang sekali dalam perkembangannya banyak kendala dalam pelayanan dan perawatan kehamilan ini. Biasanya ibu hamil berkunjung ke pusat pelayanan kesehatan setelah  trimester kedua kehamilan. Jlika ada yang berkunjung pada awal kehamilan dikarenakan ibu mengalami gangguan dan keluhan hingga perlu mendapatkan perawatan. Banyak alasan yang dikemukan oleh ibu hamil mengapa enggan memeriksakan kehamilannya sejak awal kehamilan. Beberapa alasan akan dirangkum dalam tulisan berikut ini:
  1. Ibu hamil yang memeriksakan kehamilan pertama kali pada trimester kedua disebabkan pandangan bahwa pemeriksaan kehamilan baru boleh dilakukan saat kehamilan dianggap kuat (kandungan ibu di anggap kuat nanti setelah melewati usia trimester pertama).

  2. Kepercayaan pada budaya pamali (tak boleh dipegang dan keguguran juga menjadi faktor yang menghambat ibu hamil memeriksakan kandungannya ke pusat-pusat pelayanan kesehatan.

  3. Ibu hamil tidak mengetahui kehamilannya karena masih menggunakan alat kontrasepsi hormonal (Pil dan suntik).

  4. Pengalaman pertama hamil (kehamilan anak pertama).

  5. Fasilitas posyandu yang kurang memadai (tidak ada tempat duduk bagi ibu hamil selama menunggu).

  6. Kepercayaan akan budaya ‘pamali’ jika keluar rumah di awal-awal kehamilan akan membahayakan kehamilan.
Well dari beberapa sebab di atas, aspek sosial budaya ternyata masih mendominasi. Secara umum masih sangat lazim adanya kepercayaan-kepercayaan tertentu menyangkut ibu hamil dan anak yang dikandungnya, sehingga ibu hamil dikenakan banyak keharusan atau larangan tertentu yang berlaku selama kehamilan. Disisi lain ada beberapa risiko yang ditimbulkan saat kunjungan K1 (kunjungan di trimester satu kehamilan) terlewatkan, salah satunya ditemukan ibu hamil mengalami lemas, letih dan loyo juga ditemukan ibu hamil yang mengalami kurang gizi termasuk anemia defesiensi besi yang bisa membahayakan kehamilan ibu.
Itulah beberapa alasan yang bisa kami rangkum mengapa ibu hamil sulit melakukan pemeriksaan kehamilan rutin pada awal kehamilan.

Senin, 01 September 2014

Kelor Pohon Ajaib untuk Buah Hati Bunda

Bunda punya masalah dengan si kecil yang susah makan? Cemas berat badan balita bunda tidak betambah? Masa balita masa emas pertumbuhan bunda, pastikan balita bunda terpenuhi kecukupan gizinya. Bunda khawatir yah makanan utama si kecil tidak pernah habis? Makan sedikit, malas makan atau bunda merasa balita bunda banyak makan tapi kok badannya masih kecil dan kurus? Mungkin itu artinya jagoan bunda belum terpenuhi zat gizi sesuai kebutuhannya. Si kecil pasti butuh makanan selingan, jika dibiarkan masa-masa emas pertumbuhan balita dapat berujung pada kurang gizi, kemampuan kognitif dan performance anak-anak bunda menurun belum lagi ancaman penyakit infeksi sangat rentan untuk balita-balita yang kurang gizi.

Bingung dengan makanan selingan apa yang baik buat si kecil? Yuk manfaatkan tanaman lokal bernilai gizi tinggi, kelor (Moringa Oleifera) harganya sangat murah dengan zat gizi melimpah. Moringa oleifera pohon ajaib ini tumbuh subur di kampung kita. Kelor selama ini dikonsumsi biasanya dalam bentuk sayuran untuk pelengkap menu makanan utama, sayang sekali anak kecil biasanya malas mengkonsumsi sayuran, lebih menyukai jajanan ketimbang menu utama buatan bunda.

Kelor dengan tampilan imut kelor menyimpan nutrisi yang menakjubkan, 4 kali kandungan kalsium dalam susu, 4 kali kandungan vitamin A wortel, 7 kali vitamin C jeruk, 4 kali kalsium susu, 50 kali kandungan vitamin B3 kacang, 36 kali kandungan magnesium telur, 25 kali kandungan zat besi dalam bayam dan 4 kali potassium pisang. Kelor juga mengandung 18 dari 20 asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh manusia, 4 diantaranya termasuk asam amino essensial. Luar biasa, kelor pohon ajaib!! Vitamin dan mineralnya jauh lebih unggul dibanding sayuran lain.

Sebuah penelitian yang berjudul nutritional and clinical rehabilitation of severely malnourished children with moringa oleifera lam. Leaf powder in ouagadougou (Burkina Faso)  menunjukkan terjadi peningkatan yang significant  pada kelompok yang menerima suplemen kelor rata-rata peningkatan berat badannya lebih tinggi (8,9±4,3 gr per kg per hari) dibanding kelompok kontrol  yang tidak menerima suplemen kelor(5,7±2,72 gr per kg per hari).

Well, ketika  ingin mengkreasikan makanan selingan bunda punya banyak pilihan untuk jenis  makanan selingan ini, pastikan kelor ada di pilihan-pilihan itu, makanan cemilan dengan mengkombinasikan kelor menjadi salah satu pilihannya, dengan bahan yang sangat sederhana, murah, dan mudah didapat, kelor bisa menjadi pilihan untuk campuran penganan buah hati bunda, campurkan kelor untuk resep-resep yang bunda buatkan untuk cemilan si kecil. Aman dari zat berbahaya dan tentu bernilai gizi tinggi. Yuk hayuukk, jangan lewatkan kelor jadi tambahan nutrisi buah hati bunda. Kelor pohon kehidupan tumbuh subur dan jadi tanaman pagar, sayang kan jika tidak di manfaatkan? Zat gizinya TOP :)

*yuhuu ini dia #pesanberantaikelor‬

Minggu, 29 Juni 2014

Bidan Sahabat Sejati Perempuan

#Midwives Day

Tak banyak yang tahu bahwa ada satu penanggalan di bulan ini yakni 24 juni 2014 diperingati sebagai hari bidan nasional. Bidan sebuah profesi mulia yang mungkin bagi sebagian kalangan kurang populer. Indikator “kurang populer” nya boleh jadi ketidaktahuan “midwives day” di bulan ini. Bidan adalah salah satu ujung tombak pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak juga berperan besar dalam upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di negeri ini.

Dalam satu waktu jelang peringatan hari bidan nasional, saya berkesempatan memewawancarai ibu-ibu bidan di salah satu wilayah kerja Puskesmas Poasia Kota Kendari, berikut kutipan wawancara yang sempat saya ingat :)

“saya itu klo ketemu ibu hamil satu kataji saya bilang “posyandu..!! ingat posyandu!!” Ketemu di pasar, ketemu di jalan, ketemu dimana saja satu kataji saya sampaikan” bu posyandu jangan lupa, posyandu…posyandu.. !!!” Dimana-mana saya pergi motto-ku posyandu!! 

Ibu bidan ini berusia 33 tahun dan sudah bekerja kurang lebih 12 tahun sebagai bidan desa, dengan sangat antusias menyampaikan bahwa mottonya selama ini dalam menjalankan tugas adalah mengingatkan ibu hamil untuk ke posyandu, kapan dan dimanapun beliau berjumpa dengan ibu-ibu hamil di wilayah kerjanya.

“Oh klo saya ketemu pasien apalagi ketemu ibu hamil KEK (Kekurangan Energi Kronis), satuji pesanku ” makan bu!! pokoknya makan!! klo perlu kita berkelahi dengan makanan, ingat bu nah “berkelahi dengan makanan !!!” 

Lain lagi dengan ibu bidan yang satu ini, dalam menjalani tugasnya selama 20 tahun dia punya istilah sendiri untuk menyampaikan pesan ke ibu hamil di wilayah kerjanya, “berkelahi dengan makanan”. Istilah ini biasanya disampaikan pada ibu-ibu hamil yang mengalami masalah gizi selama kehamilannya.

“Oh saya pernahmi saya baku angkat dengan suaminya pasien, dia tidak mau istrinya dibawa ke rumah sakit, padahal istrinya sudah gawat!! saya panggilkan ketua RT!!  klo tugas no HP- nya RT RW harus kita ambil, no HP-nya kader harus kita ambil, minimal kerabatnya harus kita ambil..klo ada apa-apa hubungi bidannya,.. kita syukur sekalimi klo da mau bekerja sama, kita tidak harapji apa-apa”
 
Ibu bidan yang berusia 31 tahun ini menceritakan bahwa pengalaman paling berkesan selama menjalankan tugas menjadi bidan desa adalah saat menangani kehamilan berisiko pasiennya dan suami si ibu hamil tidak bersedia istrinya dibawa ke pusat pelayanan kesehatan dengan alasan masih sanggup menangani sendiri keadaan istrinya, upayanya akhirnya berhasil setelah melibatkan tokoh masyarakat setempat


“Saya itu saya dibilangkan sama ibu hamilku, oh itu ibu bidan memang cerewet, tapi baik kasian hatinya!! Saya to dimana2 pergi klo ketemu masyarakat ..oh ibu bidan… ibu bidan..singgahki..ke rumahki bu bidan!!”

Lain lagi dengan ibu bidan yang satu ini, salah satu kesan paling menyenangkan dalam menjalankan tugasnya sebagai bidan desa adalah dikenal luas oleh masyarakat tempatnya bertugas, kemana pun dia berada sapaan masyarakat tak pernah putus padanya.

Suka dan duka menjadi bidan, bidan sahabat perempuan, bukankah begitu :)

*note 21062014
**kutipan dalam salah satu FGD bersama ibu-ibu bidan
@salamsehat

Selasa, 27 Mei 2014

Roti Labu Kuning, Penganan Sehat bernilai Gizi


Menanami pekarangan rumah dengan tanaman sayuran merupakan salah satu bentuk manajemen risiko dari bahan berbahaya yang marak ditemukan dibahan pangan kita, pemutih, pestisida, pewarna, pengawet, dan lain sebagainya tentu dapat diminimalisir jika sumber penganan ditanam sendiri dengan memanfaatkan pekarangan rumah.

Banyak jenis tanaman; kelor, bayam, daun kacang, pepaya, labu kuning, daun ubi, serei, daun kemangi, lombok, adalah jenis sayuran yang biasa ditanam dipekarangan rumah. Tak perlu luas tanaman2 ini bisa tumbuh dihalaman rumah, klo luas itu sih berkebun namanya, selain berhemat untuk sayuran (khususnya penggemar sayur bening), jenis sayuran tadi juga bisa diolah menjadi kudapan sehat aman plus bernilai gizi.

Alhamdulillah sore ini bisa menikmati kudapan sore hasil kebun sendiri. Roti labu kuning 'home made' menemani sore ditemani teh manis dan sebuah buku bacaan jatah liburan, wah wah sore yang sempurnah. Bahannya sangat sederhana, hanya terigu, gula, susu bubuk pengembang roti, mentega sedikit dan tentu saja labu sebagai menu utama.

Kandungan gizi labu kuning, warna kuning atau oranye daging buahnya pertanda kandungan karotenoidnya sangat tinggi. Karotenoid dalam buah labu kuning sebagian besar berbentuk beta karoten. Labu mengandung Vitamin A dan beta karoten, Vitamin C, Zat besi, dan Kalium, dan kelebihan lainnya.

Kelebihan lain dari labu kuning adalah kandungan seratnya yang tinggi cocok untuk yang sembelit, kandungan lemak labu kuning juga rendah, jangan khawatir untuk yang berdiet, kalium baik untuk penderita hipertensi, dan zat besi baik untuk pembentukan sel darah merah, plus antioksidan dari betakaroten dan vitamin c (nah fungsi ini yang paling menarik untuk remaja putri plus ibu-ibu muda;) Labu kuning komplitkan., mudah tumbuhnya, bergizi pula, plus lezat untuk diolah sebagai cemilan beraneka rupa.

Nah, sore ini saya memilih roti bakar labu kuning, tentu banyak pilihan lain dengan buah labu., ada yang ingin berbagi resep labu kuning..yuukkk marree nge-teh

Jumat, 28 Februari 2014

Like Mom Like Son


Ibu adalah manusia pertama yang dikenal seorang anak di dunia ini,. Ibu bahkan dari dalam kandungannnya pun anak telah menghafal alunan nadinya.., ibu di setiap hembusan nafasnya tercurahkan doa dan harapan untuk kebahagian anaknya., ibu sepanjang umur dunia tak pernah lelah menyemai subur kehidupan dengan cinta dan sayangnya,. ibu dikau adalah ratu kehidupan pemberi warna pada hitam putih di kehidupan ini..

Alangkah beruntungnya jika anak memiliki ibu yang sadar akan peranannya sebagai pendidik utama bagi buah hatinya, ditangannyalah akan terlahir anak-anak hebat kebanggaan dan teladan bagi umat., saat kehidupan semakin permisifi (serba boleh) dan hedonis (pengagungan materi/kesenangan jasadiah) ibu tangguh mampu menanamkan bekal melalui semua itu dengan kecintaan kepada Allah, kerinduan kepada Rasulullah, kedekatan dengan Alquran dan kebanggaan kepada Agamanya.

Anak hebat tidak akan terlahir secara instan, makhluk kecil itu adalah kertas kosong, ibunyalah pemberi warna hari-harinya. Alhamdulillah, tanpa sengaja hari ini saya diberi kesempatan menjadi saksi pewarnaaan itu, sebuah pemandangan menyejukkan mata dan meyentuh hati. Dia dengan wajah polos dan suara cadelnya anak yang belum lagi 4 tahun mampu melafadzkan ayat-ayat Alquran dengan fasih, saya bahkan sempat mengetes sendiri dengan membacakan surah an-naziat, berhenti, dan dia secara otomatis menyambung bacaan saya..Subhanallah, siapa yg tidak tersentuh.. saya bukan ibunya tapi ingin sekali mengusap kepalanya, menyentuh ujung rambutnya, menggenggam jari jemarinya yang lembut seraya berdoa semoga keberkahan dan kasih sayang Allah senantiasa tercurah padamu hai pemuda kecil. Sambil mengemudikan mobil ibunya berkata tak pernah memberi pelajaran khusus pada anaknya untuk menghafal, anak itu hanya menyaksikan dan mencontoh perilaku ibunya yang senantiasa melafadzkan Alquran dan dia meng-copy paste hafalan ibunya..hiks..anak tangguh sungguh lahir dari ibu yang tangguh.. terharu..

Saya jadi ingat kisah Uwais al qorni, generasi tabiin yang terkenal sebagai manusia langit, seorang hamba Allah yang tersohor karena baktinya pada ibunya, beliau rela memangku ibunya dengan kedua tangannya dari Yaman menuju Mekkah hingga kembali lagi ke Yaman untuk menunaikan ibadah haji. Dalam perjalanan pulang ibunya bertanya: “Uwais, apa yang kamu berdoa sepanjang kamu berada di Mekah?”. Uwais menjawab: “Saya berdoa minta supaya Allah (SWT) mengampunkan semua dosa-dosa ibu”.Ibunya bertanya lagi: “Bagaimana pula dengan dosa kamu uwais?”. Uwais menjawab: “Dengan terampun dosa ibu, ibu akan masuk syurga, cukuplah ibu ridha dengan saya, maka saya juga masuk syurga”.

Ahh, kisah ini selalu mengharu biru, tetap saja masih berkaca-kaca setiap membacanya kembali. Uwais memang sosok teladan, dan ibu Uwais juga manusia dengan berjuta keutamaan. Beliu mampu mencetak uwais sebakti ini pada orang tua. Siapakah uwais? Tak pernah bertemu Rasulullah tetapi beliau di sebutkan oleh Rasulullah SAW kepada Umar al-Khattab ra dan Ali bin abi tholib ra untuk mengenali Uwais al-Qarni sebagai seorang yang soleh dan derajatnya ditinggikan sehingga dia menjadi seorang yang doanya paling makbul.

*Luar biasa, sungguh hari yang menakjubkan..

"Rabbana hablana min azwajina wadzuriyyatina qurrata a'yunin waj'alna lilmuttaqiina imaama"

"Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikan kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa" (QS. Al-Furqan: 74)

“Apabila anak Adam (manusia) meninggal dunia maka putuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak sholeh yang mendoakan untuknya.” (HR. Muslim)

Kendari, 27 Februari
Inspired by barakatu:)
@tatikbahar

Minggu, 20 Oktober 2013

Oh Mommy: My name is today, not tomorrow



Siang hari ini mentari bersinar terik tepat di atas kepala, waktu sholat dzuhur telah memanggil berkunjung ke mesjid kampus. Dipelataran mesjid termegah dikampus kuning ini,  saya bertemu dengan seorang teman yang lama tak bersua.  Dalam perbincangan yang cukup singkat ada hal menarik yang sempat kami perbincangkan:

S : "De sekarang sudah masuk tahap seleksi administrasi lho, kenapa tidak mencoba mendaftarkan  diri sebagai    CPNS?"

V : "Saya Malas ka’.,  Saya tidak tertarik bekerja. Perempuan bekerja itu 'Beban Ganda'. Diluar rumah lelah bekerja, pulang ke rumah juga harus mengurus ini itu., Bisa-bisa jadi korban eksploitasi perempuan. Bandingkan ka., jika laki-laki keluar rumah pulang bekerja sudah tidk memikirkan yang lain-lain,. Nah perempuan diluar rumah sibuk ngantor, pulang ke rumah lanjut lagi..fokus ka..fokus.. Capee Dehh.."

Hahh, jawaban yang tidak saya sangka keluar dari perempuan yang saya tau 'cerdas' secara akademik,. Dia sempat menawarkan apa saya tertarik belajar Bahasa Perancis? Dia dengan senang hati bersedia memberi kursus jika saya berkenan. Menurutnya mengusai bahasa inggris itu standar, jadi jangan merasa cukup hanya dengan ukuran 'standar'. Ckck, diakhir percakapan:  “Gimana ka’ suatu saat  siap jika harus berhenti bekerja? “

Saya hanya tersenyum..saya belum memikirkannya (lagi) de., Entahlah jika seandainya besok-besok Allah mentaqdirkan pertanyaan itu terlontar dari orang lain yang saya terikat 'Mitsaqan Ghaliza' dengannya :)

Perbincanganku dengan adik tersebut cukup berkesan hingga saya buatkan status di jejaring sosial,. Eh banyak komentar  yang masuk. Berikut ini komentar yang saya anggap paling menyentuh hati: 

Perempuan bekerja sperti makan buah simalakama.kalo yang satu sukses,berarti yg lain dikorbankan.tak kan prrnah dua-duanya sukses.  Tidak mungkin. Ketika perempuan ke luar dari rumah,mengejar kesuksesan dalam kerja, berarti yg dirumah akan dikorbankan (Apakah ada pembantu yg smpurna dalam mrawat dan mendidik anak, like his or her own mommy, kagak ade ye.) Peran ibu dalam setiap detik perkembangan anak begitu besar. Ketika seorang ibu keluar rumah, maka sesungguhx dia telah kehilangan kesempatan untuk memaksimalkan tumbuh kembang anaknya  dan detik yang hilang tidak akan pernah bisa ditebus. Anak itu nama lainnya 'Today'....kebutuhannya tidak bisa ditunda 'Tomorrow',....Besok saja baru mama masak ya biar mau makan...aduh tidak sempat hari ini...besok saja kita pikniknya........”oh mommy: my name is today,not tomorrow” .#pengalamanpribadi

Saya terharu membaca komen ini, saya menuliskannya sesuai teks asli tanpa merubah sama sekali kecuali memperbaiki singkatan dan ejaan.

Salam

*Dalam sehari bertemu dua perempuan hebat,. Unforgetable moment

Kamis, 17 Januari 2013

Kematian Ibu Melahirkan, Pilu!

Kesibukanku dikampus terhenti sejenak karena membaca sms dari Bapak ” Nak, Nia temanmu nak, meninggal saat melahirkan anaknya yang ke tiga” Deg..Innalillahi wa inna ilayhi rojiun,.. Yaa Allah berita duka lagi.. baru tadi pagi mendengar berita duka seorang teman kehilangan bayinya yang berusia beberapa hari, siang ini kembali mendapat kabar teman sekolah dan teman bermainku masa kecil telah kembali menghadap Rabb-Nya karena pendarahan yang dialaminya dalam proses melahirkan.

Yah..semua yang bernyawa pasti akan mati, hanya saja secara kebetulan hari ini 2 (dua) berita duka yang saya dengar berhubungan dengan KIA/Kesehatan Ibu dan Anak. Berita pertama kematian bayi berusia tiga hari dan berita kedua adalah kematian ibu karena proses melahirkan. Kematian Bayi dikenal dengan istilah Infant Mortality Rate (IMR) yakni kematian anak dibawah satu tahun, kematian Ibu dikenal dengan istilah Maternal Mortality Rate (MMR) yakni kematian ibu pada saat hamil, melahirkan, dan masa nifas. Baik IMR dan MMR biasanya digunakan sebagai indikator derajat kesehatan masyarakat di suatu wilayah. IMR dan MMR berbanding terbalik dengan status derajat kesehatan masyarakat, dan tentu saja kita semua berharap IMR dan MMR mencapai zero accident untuk mewujudkan kesehatan ibu dan anak yang optimal.

Semua ibu hamil menginginkan bayinya sehat, dan bayi yang sehat idealnya lahir dari ibu yang sehat pula, Secara medis satu saja terdapat kematian ibu saat melahirkan merupakan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan perlu penanganan lebih lanjut. Masa kehamilan-melahirkan-masa nifas periodenya cukup panjang (10 bulan 20 hari), dalam masa ini seorang perempuan masuk dalam kategori berisiko tinggi (high risk) karenanya perlu perhatian dan perawatan khusus. Jika di awal kehamilan ibu mengalami gangguan dan keluhan karena kehamilannya, ibu masih ada waktu memperbaiki dalam kurun masa kehamilan yang panjang tersebut, hanya saja bisa menjadi masalah jika ibu terlambat memeriksakan kehamilan (K1 dan K4) sehingga pendarahan, anemia, eklamsia , abortus berpotensi terjadi dan berujung pada kematian maternal.

Lepas dari kematian itu Allah yang mengatur, kematian ibu (MMR) bisa dicegah minimal dengan pemeriksaan kehamilan yang teratur empat kali selama hamil; 1 kali di trimester pertama, 1 kali di trimester kedua, 2 kali di trimester ketiga. Dalam pemeriksaan kehamilan (Antenatal Care/ANC) ini ibu hamil bisa mengetahui perkembangan kehamilannya sehingga bisa melakukan tindakan preventif dan kuratif selama hamil sehingga tak ada lagi ibu hamil yang terlambat mendapatkan pertolongan, terlambat mengambil keputusan, dan terlambat mencapai pelayanan kesehatan. Hal inilah mungkin alasan mengapa MMR dijadikan salah satu indikator derajat kesehatan masyarakat.

Hari ini, hatiku tersentuh karena kematian ibu melahirkan itu menimpa temanku, teman sekolah sekaligus teman kecilku. Kami memang sudah lama tak bertemu.. sejak kepindahan kami dari rumah dinas Bapak 7 (tujuh) tahun lalu, kami sudah jarang sekali bersua. Hari ini kami semua bersedih telah kehilangan seorang teman, masih terngiang isak tangis keluarga menceritakan rencana bahagia temanku untuk bayi yang akan dia lahirkan itu.. kini semua tinggal rencana.. Inna lillahi wa inna ilayhi rojiun.. Allahhummaghfir laha warhamha wa’aafiha wa’fu anha…

Selamat jalan saudariku.. Kami berharap Allah memberimu tempat terbaik..Kami juga berharap tak ada lagi kematian karena ibu melahirkan..karena MMR dan IMR bisa dicegah, kesehatan ibu dan anak yang optimal bisa diusahakan..Ini adalah pekerjaan rumah yang belum terselesaikan; bagaimana menurunkan Angka Kematian Ibu dengan melibatkan semua elemen masyarakat

Jumat, 03 Juni 2011

Budaya Berpantang Makan pada Ibu Hamil

Banyak kepercayaan yang masih berlaku di masyarakat yang diperuntukkan untuk ibu hamil.., percaya ga percaya kepercayaan yang berlaku secara turun temurun ini masih ada., tentu saja ada sebagian dari kita yang bertanya-tanya hari gini masih percaya hal seperti itu?! Apa kata dunia!!! Eits., jangan salah ternyata kepercayaan seperti ini masih hidup dan ada ditengah masyarakat, kepercayaan berupa anjuran dan pantangan mengkonsumsi makanan tertentu ini biasanya dihubungkan dengan sifat dan bentuk dari makanan tersebut,. misalnya :
1. Telur ayam kampung dianjurkan diasosiasikan dengan proses melahirkan yang akan mudah seperti mudahnya ayam bertelur.,
2. Air kelapa muda diianjurkan karena air kelapa muda nampak bersih dan bening diasosiasikan anak akan cantik dan mempunyai kulit yang bersih setelah lahir.
3. Minyak kelapa dianjurkan karena sifat minyak kelapa yang licin diasosiasikan dengan anak yang tidak akan lengket dalam rahim serta mudah melewati jalan lahir.
4. Cumi-cumi dipantang sebab cumi-cumi berjalan maju mundur diasosiasikan dengan proses melahirkan yang sulit di pintu lahir krn bayi akan menyulitkan persalinan dengan maju mundur pada saat proses kelahiran.
5. Kepiting dipantang karena dikhawatirkan anak akan nakal dan suka menggigit jika besar.
6. Gurita dipantang sebab bersifat lembek diasosiasikan dengan bayi yang juga akan lemah fisiknya seperti gurita.
7. Kepiting dan udang yang baru ganti kulit dipantang sebab bertekstur lembek dan tidak bertulang diasosiasikan dengan anak yang juga akan lemah tak bertulang jika lahir.
8. Ikan pari dipantang karena memiliki tulang lembut dipercayai akan menyebabkan bayi juga bertulang lembut,
9. Mangga macan, durian, nenas, dan nangka dipantang karena dianggap bersifat panas dikaitkan dengan keyakinan dikotomi panas dingin. Ibu hamil dianggap dalam kondisi dingin sehingga tidak boleh makan makanan yang sifatnya panas sebab dapat menyebabkan keguguran kandungan pada umur kehamilan muda.
10. Kelapa muda dipantang pada awal kehamilan karena dapat mengakibatkan keguguran.
11. Rebung dipantang karena dikhawatirkan akan menyebabkan anak memiliki banyak bulu/rambut jika lahir.
12. Pisang kembar dipantang diasosiasikan anak juga akan kembar jika lahir.
13. Daun kelor dipantang karena mengandung getah yang pedis yang akan menyebabkan rasa sakit dalam proses kelahiran dikenal dengan sebutan “getah kelor”, juga karena daun kelor yang berakar diasosiasikan dengan ari-ari bayi yang juga akan berakar.
14. Nangka muda dipantang karena juga memiliki getah yang akan menyebabkan rasa sakit dalam proses kelahiran.
15. Pepaya muda dipantang karena dapat menyebabkan gatal-gatal pada ibu hamil dan bayi yang ada didalam kandungan.
16. Terong dipantang karena juga dapat mengakibatkan gatal-gatal pada ibu dan bayinya.
17. Tebu dipantang karena akan menyebabkan rasa sakit karena ibu akan mengeluarkan banyak air mendahului proses kelahiran diasosiasikan dengan tebu yang juga mengandung banyak air.
Wah wah pantangan dan anjuran ini mungkin hanya sebagian dari banyaknya kepercayaan sejenis yang beredar di masyarakat,. Sekilas banyak yang tidak masuk akal; apa hubungannya mengkonsumsi daun kelor dengan ari-ari yang berakar? Atau rebung dengan bulu lebat? Atau pisang kembar dengan bayi kembar?  Seharusnya ibu yang sedang hamil terpenuhi kecukupan gizinya untuk kepentingan dirinya sendiri dan janin yang sedang dikandungnya., bisa jadi Ibu hamil yang masih secara konsisten berpantang makan akan kekurangan zat makanan tertentu misalnya zat besi (Fe) yang akan berdampak pada anemia.., ups jika sudah begini sudah perlu perhatian serius dong., anemia kan berdampak buruk pada kehamilan ibu., so buat para ibu hamil bila menemukan anjuran dan pantangan demikian, baiknya berkonsultasilah pada dokter Anda tentang makanan-makanan tadi serta hubungannya dengan kehamilan., setuju ibu-ibu?! :)

Minggu, 25 April 2010

Pemberdayaan Perempuan, Perempuan Diperdaya

Baru saja 21 April lewat, pemberdayaan perempuan rame di wacanakan dimana2, berikut tulisan yang igin sedikit berbagi tentang sisi sosial pemberdayaan perempuan dalam logika "Gender Equality"

Perjalanan Panjang Gender Equality
Dalam tujuan ketiga Millenium Development Goals (MDGs), Gender Equality dipandang sebagai kebutuhan mendasar bagi tercapainya keberhasilan pembangunan millennium. Negara-negara berkembang di dorong untuk segera mengadopsi konsep ini, dan selanjutnya memasukkannya dalam berbagai program pembangunan. Program-program pembangunan jangka menengah dan tahunan terus dikembangkan agar responsif gender. Program-program tersebut ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup dan perlindungan perempuan, terutama di bidang pendidikan, kesehatan, hukum, ketenagakerjaan, sosial, politik, lingkungan hidup dan ekonomi (Laporan MDGS 2005).
Program lain yang terus diupayakan adalah memperkuat kelembagaan dalam pengarusutamaan gender dengan berusaha melaksanakan dua hal. Pertama: membentuk kesadaran masyarakat mengenai gender equality melalui pelatihan-pelatihan, training gender, diskusi-diskusi, sosialisasi melalui berbagai media massa baik cetak maupun elektronik, bekerjasama dengan kelompok-kelompok masyarakat yang ditujukan bagi terjadinya perubahan pada level individu masyarakat mengenai gender. Kedua: melakukan transformasi sosial melalui instrumen institusi sosial yang ada dimasyarakat, seperti mengajukan rancangan UU berbasis gender yang mendukung kondisi lingkungan yang mampu menghilangkan stereotip gender.
Booming isu agenda gender mulai marak sejak Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan (International Conference Population and Development-ICPD) di Kairo September 1994, yang menjadi batu loncatan penting untuk mencetuskan ide bahwa ‘perempuan’ adalah kata kunci bagi penyelesaian masalah ledakan kependudukan. Pesatnya peningkatan jumlah penduduk dunia dianggap akan membawa persoalan besar bagi peradaban dunia. Khususnya dalam hal pangan dan kemiskinan. Konferensi Kairo menghasilkan program aksi bertema “Empowerment of Women” atau yang lebih popular di Indonesia dengan istilah “Pemberdayaan Perempuan” yang menjadi kunci pembangunan berkelanjutan.
Jika Konfrensi Kairo menjadi momentum yang mendorong penyetaraan pria dan wanita di pelbagai bidang, Konfrensi Wanita Sedunia IV (Fourth World Conference on Women) yang digelar di Beijing, Cina September 2005, telah menancapkan aksi yang lebih luas lagi. Konfrensi ini menghasilkan Beijing Platform for Actions-BPFA. Pada tahun ini juga dikenalkan wawasan Gender and Development (GAD) dengan penekanan pada kesadaran tentang kesetaraan gender dalam menilai kesuksesan pembangunan. GAD menekankan pentingnya kajian yang fundamental terhadap struktur sosial dan keterlibatan aktif perempuan pada penentuan kebijakan. Perhitungan yang dipakai adalah GDI (Gender Development Index), yaitu kesetaraan perempuan dalam bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi serta GEM (Gender Empowerment Measure), yang mengukur kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam partisipasi politik dengan indikator kesetaraan yang sempurna (Perfect Equality) adalah 50/50. Deklarasi Millenium (MDGs) tahun 2000 adalah komitmen untuk menguatkan aksi BPFA yang melahirkan pemberdayaan perempuan sebagai salah satu dari 8 target pembangunan millennium.

Memahami Logika Gender
Diakui bahwa banyaknya persoalan perempuan memang telah memunculkan simpati yang sangat besar pada berbagai kalangan. Simpati ini kemudian terkristal menjadi sebuah ‘kesadaran’ untuk memperjuangkan nasib perempuan dengan cara dan metode tertentu. Gerakan inilah yang dikenal dengan istilah ‘feminisme’ yang sekalipun lahir dalam berbagai ragam dan bentuk, namun terdapat semacam konklusi umum bahwa sumber dari semua persoalan perempuan adalah kebudayaan patriarki yakni tatanan nilai-nilai yang dianut suatu masyarakat yang menempatkan laki-laki lebih berkuasa dibandingkan perempuan (konsep superioritas laki-laki dan inferioritas perempuan). Budaya patriarki ini bisa terjadi di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun dalam kehidupan bernegara.
Terminology yang lebih familiar dipakai oleh feminis untuk menyebut kondisi ini adalah ketimpangan, ketidakadilan, atau disparitas yang berbasis gender. Mengapa gender? karena istilah gender sendiri, secara definitive diartikan sebagai perbedaan perilaku (behavioral differences) atau sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan kultural (jenis kelamin sosial). Faktor ini selanjutnya dirinci menjadi faktor budaya, agama dan kultural. Inilah yang mereka anggap sebagai biang keladi merebaknya berbagai stereotype (pelabelan negatif), marginalisasi (pemiskinan ekonomi), subordinasi, dan kekerasan atas perempuan. Oleh karena itu, perlu ditekankan adanya perbedaan antara konsep gender dan konsep jenis kelamin (seks); seks lebih menunjuk pada peyifatan jenis secara biologis, sementara gender lebih menunjuk pada penyifatan yang dibentuk secara sosial budaya.
Sebuah ide, konsep atau pendapat hanya dapat dikatakan sebagai konsep pemikiran yang benar jika telah teruji kesesuaiannya dengan fakta. Jika tidak, ide tersebut hanyalah asumsi belaka. Isu gender memang telah memberikan efek bius yang kuat apalagi pada faktanya memang begitu banyak persoalan perempuan yang hingga saat ini sulit diselesaikan. Hanya saja, banyak aspek sosial dari gagasan seputar gender yang jika dicermati mengandung banyak kerancuan (ambivalensi) karena tidak sesuai dengan realitas:

1. Laki-laki dan perempuan sama

Salah satu ide dasar konsep kesetaraan gender; bahwa laki-laki dan perempuan sama. Sekalipun secara biologis laki-laki dan perempuan berbeda, perbedaan tersebut tidak boleh berimplikasi pada perbedaan gender, karena perbedaan gender hanya akan memunculkan ketidakadilan sistemik atas kaum perempuan.
Dari definisi ini terlihat bahwa dalam persepsi feminis, gender hanya merupakan produk budaya (nurture), bukan alami (nature), yakni sekedar hasil persepsi suatu masyarakat atas apa yang disebut dengan sifat paten (kodrat) laki-laki dan sifat paten (kodrat) perempuan. Karena merupakan produk budaya, gender dapat dipertukarkan dan bersifat tidak permanen, yakni dapat berubah sejalan dengan paradigma berpikir yang menjadi landasan budaya masyarakat tersebut.
Berdasarkan kerangka berpikir ini, kemudian muncul penolakan terhadap konsep pembagian peran sosial yang dikaitkan dengan perbedaan biologis. Tidak boleh misalnya, hanya karena secara biologis perempuan punya rahim dan payudara, kemudian dipersepsikan bahwa hanya perempuan yang memiliki sifat-sifat keperempuanan (feminim) seperti sifat lembut, keibuan, dan emosional sehingga secara kodrati perempuan harus menjalani fungsi-fungsi keibuan dan rumah tanggaan. Tidak boleh pula, laki-laki yang dianggap lahir dengan sifat-sifat maskulitasnya, lalu diarahkan untuk menjadi pemimpin atas kaum perempuan.
Bagi mereka, persepsi-persepsi seperti ini muncul lebih disebabkan faktor budaya yang berpengaruh terhadap pembentukan konsep gender itu sendiri di tengah masyarakat. Kebetulan saat ini budaya masyarakat sedang didominasi kultur patriaki yang menempatkan posisi laki-laki lebih superior di bandingkan perempuan. Budaya ini juga dianggap bertanggungjawab melahirkan mitos-mitos peran gender yang merugikan perempuan termasuk peran perempuan sebagai ibu yang dipandang ‘tidak strategis’ dan ‘tidak produktif’
Karena dianggap merugikan mereka terobsesi untuk mengubah masyarakat yang patriarki ini menjadi masyarakat berkesetaraan, baik perubahan secara kultural (melalui perubahan pola pendidikan, pengasuhan anak, persepsi keagamaan yang dianggap bias gender) maupun secara struktural (melalui perubahan kebijakan). Mereka berharap, jika suatu saat masyarakat bisa memandang perempuan sebagai manusia (bukan atas dasar kelamin), maka pembagian peran sosial (domestic vis a vis a public) akan cair dengan sendirinya. Artinya, semua orang akan mampu berkiprah dalam bidang apapun yang diinginkannya tanpa harus khawatir dianggap menyalahi kodrat.
Jika dicermati secara konseptual maupun praktis ide seperti ini sangat utopis, karena mereka seolah tak bisa menerima mengapa manusia harus lahir dengan membawa kodrat maskulitas dan feminitasnya, sementara pada saat yang sama mereka tak mungkin mengabaikan fakta bahwa manusia memang terdiri dari dua jenis yang berbeda. Lalu logika apa yang bisa dipakai untuk menjelaskan mengapa didunia harus ada laki-laki dan perempuan dengan ‘bentuk’ dan ‘jenis’ yang berbeda, jika bukan karena keduanya memang memiliki peran dan fungsi yang berbeda. Bukankah ketika perempuan memiliki rahim dan payudara, sementara laki-laki tidak berarti hanya perempuan yang bisa hamil, melahirkan, dan menyusui. Bukankah fungsi kehamilan, melahirkan, dan menyusui ini merupakan fungsi yang tak bisa digantikan laki-laki? Bukankah aneh jika setelah melahirkan kaum perempuan bisa melepas fungsi dan peran keibuannya dengan alasan perempuan pada dasarnya tidak harus menjadi ibu sehingga sehingga peran ini bisa dipertukarkan dengan laki-laki. Bukankah pada faktanya pria dan wanita memiliki perbedaan fisik; rata-rata pria memiliki otot yang lebih besar daripada wanita. Rata-rata wanita memiliki tulang pelvik yang lebih besar daripada pria dan ini sangat mendukung proses kehamilan dan kelahiran. Bukankah pria dan wanita juga memiliki hormon yang berbeda. Hormon-hormon pada wanita yang terbentuk pada saat menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui berpengaruh pada sifat feminim wanita. Sifat yang disebabkan oleh hormon-hormon pada wanita ini ternyata sangat dibutuhkan oleh bayi yang tidak berdaya. Tanpa ada figur feminim yang mengasuhnya, kelangsungan hidup manusia tidak dapat berjalan secara sehat
Dari sini sebenarnya bisa terlihat adanya ketidakcermatan kaum feminis dalam memahami dan menyikapi realitas. Kesan emosional justru dominan tatkala menyikapi perbedaan tersebut sebagai sebuah ketidakadilan. Padahal realitasnya ‘tidak semua perbedaan berarti ketidakadilan’. Perbedaan peran dan fungsi ini justru memungkinkan direalisasikannya tujuan-tujuan luhur masyarakat secara keseluruhan, tanpa memandang apakah ia laki-laki ataukah perempuan.

2. Ketidaksetaraan gender merugikan perempuan

Adanya ketidaksetaraan (disparitas) gender dianggap sangat merugikan perempuan. Karena ketidaksetaraan inilah yang menyebabkan munculnya berbagai ketidakadilan sistemik atas perempuan, seperti terjadinya praktik subordinasi dan marjinalisasi diberbagai bidang (kesehatan, ekonomi, politik, sosial, dan budaya), pelabelan negatif, maraknya kasus-kasus tindak kekerasan, dan lain-lain. Mereka melihat, bahwa selama ini kesalahan persepsi tentang gender yang dipengaruhi budaya patriarki telah begitu berpengaruh di dalam masyarakat; laki-laki diposisikan lebih serta punya power dan bargaining yang tinggi di hadapan perempuan; sementara kaum perempuan terpuruk di posisi-posisi rendah yang tidak menjanjikan, serba dilematis, serba lemah, dan bahkan ‘terpaksa’ hidup dengan tingkat ketergantungan yang tinggi pada laki-laki sehingga layak diperlakukan secara semena-mena.
Munculnya cara berpikir seperti ini sesungguhnya dipengaruhi oleh prinsip individualisme yang menganggap bahwa masyarakat adalah kumpulan individu-individu yang merdeka, dengan laki-laki di satu sisi dan perempuan di sisi lain. Prinsip ini telah menempatkan diri, ego, jenis, dan kelompok sebagai sumber orientasi. Salah satu contohnya ketika muncul persoalan yang menyangkut komunitas perempuan, mereka langsung memandang persoalan tersebut secara parsial, yakni sebagai persoalan internal kaum perempuan yang harus diselesaikan oleh perempuan melalui perspektif perempuan.
Secara faktual, klaim ini terbantah oleh kenyataan bahwa apa yang disebut-sebut oleh kalangan feminis sebagai ‘persoalan perempuan’ ternyata tidak hanya ‘milik’ kaum perempuan. Tidak sedikit kaum laki-laki yang juga mengalami subordinasi, marjinalisasi, tindak kekerasan, dll. Bahkan hari ini bukankah persoalan-persoalan seperti kemiskinan, diskriminasi, kekerasan, kebodohan, submission, kesehatan yang buruk, malnutrisi, dan sebagainya menjadi persoalan-persoalan krusial yang dihadapi masyarakat secara keseluruhan?

3. Liberalisasi perempuan akan memajukan perempuan

Kalangan feminis meyakini bahwa liberalisasi/pembebasan perempuan merupakan pondasi untuk mencapai kemajuan, karena tatkala perempuan berhasil memperoleh kebebasan dan independensinya, berarti mereka telah keluar dari status inferior yang mereka miliki selama ini, sekaligus kesempatan secara ekspresif mengejar ‘ketertinggalan’ tanpa harus khawatir dengan pembatasan kultural dan struktural yang dianggap menghambat kehidupan mereka. Isu liberalisasi ini kemudian menjadi salah satu isu sentral bagi perjuangan feminis.
Harus diakui bahwa liberalisasi perempuan telah membawa banyak perubahan secara sosial dan budaya; banyak perempuan yang merasa bebas mengekspresikan dirinya, bekerja dibidang apapun yang diinginkan, berbuat apapun yang disukainya, tanpa harus merasa takut dengan berbagai tabu (termasuk konsep kodrat) yang selama ini dianggap mengekang mereka. Di AS, tercatat jumlah persentase perempuan bekerja meningkat dari tahun ke tahun hingga lebih dari 75% pada tahun 2000, demikian juga Indonesia, meningkatnya jumlah perempuan terdidik termasuk semakin banyaknya perempuan yang berkiprah di bidang pemerintahan dianggap sebagai prestasi atas keberhasilan perjuangan pembebasan perempuan.
Persoalannya kita juga tidak dapat menutup mata bahwa pada saat yang bersamaan, isu ini juga telah membawa berbagai dampak buruk bagi kaum perempuan dan masyarakat secara keseluruhan akibat kian rancunya relasi dan pembagian peran antara laki-laki dan perempuan. Runtuhnya struktur keluarga, meningkatnya angka perceraian, fenomena un-wed dan no-mar, merebaknya free sex, meningkatnya kasus-kasus aborsi, dilema wanita karir, syndrome cinderella complex, eksploitasi perempuan, pelecehan seksual, anak-anak bermasalah, dan lain-lain yang ditengarai kuat menjadi efek langsung dari isu kebebasan perempuan. Negara-negara liberal, yang mengklaim dirinya sebagai negara maju, demikian gigihnya memperjuangkan cara hidup bebas yang lebih individualistis, padahal pada saat yang sama data justru mengungkapkan masalah besar yang melanda negara-negara maju ini berkaitan dengan kaum wanitanya. Negara-negara ini dilukiskan sedang menghadapi ancaman keambrukan sosial.
Di banyak negara maju, khususnya Inggris dan Amerika, perceraian keluarga menjadi obsesi. Statistik menunjukkan banyak kondisi perkawinan yang ‘diujung tanduk’. Mayoritas anak dibesarkan oleh orang tua tunggal. Perceraian meningkat pesat padahal akibat akhir dari perceraian adalah masyarakat yang tercerai berai. Di Swedia data menunjukkan 50% bayi-bayi lahir dari ibu yang tidak menikah. Lebih dari 50% perkawinan di Swedia berakhir dengan perceraian (The Economic, London). Wajar jika pada perkembangan selanjutnya muncul sikap penentangan dari sebagian masyarakat yang masih sadar atas bahaya racun yang tersembunyi di balik tawaran feminisme ini sebagai gerakan anti family, anti children, dan anti future, sayangnya semangat penolakan ide ini kalah gencar dengan janji-janji manis yang diembannya.


4. Kemandirian perempuan

Gerakan gender dalam pemberdayaan perempuan lebih ditekankan pada kemandirian dan kebebasan kaum perempuan. Di bidang ekonomi, perempuan di dorong untuk mandiri dalam finansial. Selanjutnya perempuan yang telah mandiri secara finansial tidak perlu bergantung pada laki-laki (suami). Konteks kemandirian perempuan juga terkait dengan tidak adanya kewajiban untuk taat kepada suami. Jika perempuan telah berperan dalam finansial keluarga maka peran domestik tidak lagi bertumpu pada perempuan. Harus ada pembagian kerja dalam tugas-tugas domestik (rumah tangga), sebagaimana jasa perempuan mengambil alih peran publik. Peran keibuan tidak lagi menjadi tanggungjawab perempuan. Kaum laki-lakipun harus berperan dalam tanggungjawab pengasuhan anak dan pengelolaan rumah tangga. Namun akhirnya, tidak ada satu pun pria maupun wanita yang mengambil peran utama dalam rumah tangga, karena keduanya bersaing keras di sektor publik. Pada titik ini kehancuran institusi keluarga semakin terbuka. Peran kepemimpinan yang dibebankan kepada kaum laki-laki akan melemah, karena perempuan pun menuntut kepemimpinan tersebut, merasa tak perlu taat karena toh secara finansial tidak tergantung lagi pada suami. Peran keibuan dan mengelola rumah tangga akan terabaikan, padahal peran ini adalah peran utama dan pertama dalam melahirkan generasi berkualitas. Fenomena ini memunculkan anggapan bahwa konspirasi di balik program pemberdayaan perempuan versi ‘kesetaran gender’ tidak lebih bertujuan untuk menghancurkan kepemimpinan laki-laki dalam keluarga sekaligus menghapus peran keibuan yang menjadi tulang punggung lahirnya generasi berkualitas prima yang secara bertahap akan membuat perempuan tidak lagi mementingkan institusi keluarga.
Pertanyaannya kemudian adalah benarkah kaum perempuan tertindas dalam ranah domestik hingga perlu dibebaskan? Benarkah rumahtangga adalah penjara bagi kaum perempuan? Benarkah peran domestik ibu rumah tangga merupakan sebuah perbudakan? Benarkah sifat feminim sebagai hasil bentukan kultur, demikian pula peran wanita dirumah tangga? Pandangan ini sering terbantahkan karena pada kenyataannya betapa banyak perempuan di berbagai belahan dunia yang secara sukarela, ikhlas dan tanpa merasa terpaksa selalu mendambakan peran sebagai ibu rumah tangga. Inipun diakui oleh kaum perempuan yang telah terpenjara dalam dunia matrealistis. Syndrome cinderella complex menjadi fenomena jeritan bagi perempuan-perempuan barat yang justru mendambakan sifat feminim di bawah perlindungan dan pengayoman maskulitas laki-laki. Contohnya adalah Bella Abzud (Salah satu pejuang feminis garis depan) yang ‘bertobat’ kemudian menentang agenda gender, penggodok BPFA Beijing ini sebelumnya menyuarakan kemandirian dan kesamaan hak bagi perempuan disegala lini, namun setelah kematian suaminya, ia seperti kapal kehilangan kemudi. Contoh lain kegagalan agenda gender terlihat pada Germaine Grerr yang menerbitkan buku, The Whole Women. Buku ini menggambarkan perjalanan melelahkan kaum feminis dalam upaya memperjuangkan kesetaraan gender dan pengakuan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa diubah dari penciptaan manusia.
Akhirnya, boleh jadi sebagian kalangan berpandangan bahwa masyarakat berkesetaraan gender dapat menyelesaikan masalah, padahal pada kenyataanya sering menimbulkan masalah baru yang lebih kompleks. Agenda gender jelas-jelas melawan fitrah dan kodrat penciptaan wanita yang berbeda dengan laki-laki, yang berkonsekuensi pada perbedaan peran dalam keluarga dan publik. Pembedaan ini justru merupakan cerminan kemahaadilan penciptaan manusia, yang dengan pembedaan ini pula pria dan wanita dituntut untuk saling mengisi dan berbagi dalam mengemban amanah kehidupan hingga bermuara pada tujuan yang sama yakni meraih kebahagian yang hakiki.
Wallahu a’lam bi ash-shawab.