Kamis, 11 Desember 2014

Tentang Kebaikan



Sore menyapa, jam pulang membuat jalanan kampus ramai dipadati pengguna jalan. Saya mengendarai kendaraan secara perlahan karena menyadari diri belum begitu mahir menyetir. Kepadatan di jalan raya adalah tantangan tersendiri bagi penyetir pemula, harmonisasi kopling dan gas terkadang masih tak seirama, mesin mobil 'mati dalam' adalah hal biasa, dan parahnya mobil saya 'mati dalam' di tanjakan jembatan. Innalillahi... inilah yang saya khawatirkan.

Setelah menarik rem tangan, menormalkan persneling saya menghidupkan kembali mesin mobil, masukkan gigi satu, menurunkan rem tangan, injak gas, ups.. mesin mobil kembali mati. Mobil saya malah bergerak mundur, beberapa kali saya coba kembali tetap saja seperti itu. Mobil bukannya maju malah mundur, beberapa kendaraan di belakang malah telah membunyikan klakson pertanda tak sabar. Saya menurunkan kaca jendela mobil, seraya memandangi kaca spion memperhatikan sekeliling.. hikss kerumunan motor dan mobil sudah mengantri di belakang mobil saya. Beberapa motor melambung melalui celah sempit di antara bahu jalan dengan tatapan sesekali diarahkan pada pengendara mobil yang mungkin sudah terlihat panik ini.

Bismillah..saya coba sekali lagi dan yang terjadi tetap sama, mobil tetap mundur dan klakson kendaraan yang berada pas dibelakang mobil saya makin nyaring berbunyi, heiii STOP JANGAN MUNDUR lagi!!! Mungkin seperti itu nada klakson mobil yang diteriakkan padaku.

Di kejauhan melalui arah depan kaca mobil saya melihat sebuah motor yang tadi berlalu mendahuluiku memutar motornya kembali dan berbalik arah ke kemacetan yang saya sebabkan ini. Dua anak muda yang berboncengan menghentikan motornya disisi mobilku dan menyapa,

 "Kak kita butuh bantuan ?"

Saya balik menoleh padanya dan menyahuti,

"Iyee, ini mobilnya saya tidak bisa jalankan klo berhenti ditanjakan.."

"Mari saya bantu kak.."

Saya turun dari mobil dan membiarkannya menengendarai mobilku hingga di penurunan jembatan, setelah memarkir mobil di pingggir jalan, dia turun dari mobil menghampiriku seraya memberi saran

"Kak, kita pakai gigi dua saja langsung kak...hati2 kak..."

"Oh iyee, terima kasih banyak bantuannya.."

Saya masuk ke mobil dan mulai berkendara, lewat kaca spion saya melihat adik itu kembali ke motornya dan melanjutkan perjalanan bersama temannya. Saya sempat menceritakan kejadian ini pada seorang teman dan dia menyahuti "weee klo mau dia bisa bawa lari itu mobilmu nah.. gampangnya tinggal tancap gas itu.."

Saya hanya tersenyum, sampai sekarang saya tidak tahu siapa anak muda itu, dari sekian banyak orang yang ada di tempat kejadian ada satu yang Allah kirimkan dengan sebuah alasan. Begitu banyak orang yang lalu lalang, satu orang ini bisa saja berlalu seperti yang lain tetapi dia memutuskan kembali dan menolongku, mungkin kebaikannya terlihat sederhana tapi pesan yang tersampaikan tidak seseserhana itu.

Ketulusan tak bisa sembunyi, keihlasan yang menyertai tak bisa terabai. Ini bukan tentang siapa dia? Tetapi pesan terhadap kebaikan yang menyentuh hati. Saat dunia mempertontonkan begitu banyak pesakitan, masih saja terdapat sosok-sosok inspiratif, Allah tentu mempertemukan kami dengan sebuah alasan, belajarlah darinya tentang ketulusan, belajarlah darinya tentang keikhlasan. Siapapun kamu, terima kasih banyak, Jazakallahu Khairan katsiran.

Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat...
(HR. Muslim)

Kdi, 4 Desember 2014
@tatikbahar

Rabu, 19 November 2014

Catatan HKN 2014

Besok 12 november 2014 kita memperingati hari kesehatan nasional (HKN). Peringatan ke-50  ini mengusung tema sehat bangsaku, sehat negeriku. Harapan dan impianyang tidak muluk-muluk dalam perjalanan panjang peringatan usia setengah abad peringatan HKN.

SEHAT sebuah jargon yang bagi sebagian orang menyikapinya tidak seserius menyikapi kondisi sakit. Paradigma berbeda menyikapi sehat dan dan sakit, dalam banyak hal pengorbanan besar akan dilakukan ketika sakit untuk menjadi sehat kembali, hal ini tentu berbeda dengan pengorbanan di kala sehat untuk mempertahankan kondisi sehat itu sendiri. Paradigma kita sebagian besar masih berorientasi pada aspek kuratif dan rehabilitatif jikatidak ingin dikatakan mengabaikan aspek promotif dan preventif.

Mari menilik sejenak data kesehatan nasional dalam riskesdas 2013. Data yang dilansir oleh Kementrian Kesehatan tahun lalu ini cukup memberikan potret sekilas peta kesehatan nasional betapa upaya promotif dan preventif masih harus terus diupayakan. Ada beberapa indikator yang mengindikasikan hal ini. Salah satunya adalah masalah gizi dan KIA (Kesehatan Ibu dan Anak).

1.Prevalensi gizi kurang pada balita memberikan trend yang fluktuatif dari 18,4 persentahun 2007, turun menjadi 17,9 persenpada tahun 2010, kemudian meningkat lagi 19,6 persenpada tahun tahun 2013.

2.Peta status gizi balita dimasa lalu (stunting/pendek) masih menjadi masalah serius dengan angka nasional mencapai 37,2 persen.

3.Status imunisasi juga masih dijumpai 32,1 persen balita diimunisasi tetapi tidak lengkap, serta 8,7 persen yang tidak pernah diimunisasi, dengan alasan takut panas, sering sakit, keluarga tidak mengizinkan, tempat imunisasi jauh, tidak tahu tempat imunisasi, serta sibuk/repot.

4.Posyandu sebagai sarana melakukan pemantauan pada tumbuh kembang balita juga menarik perhatian. Persentase balita umur 6-59 bulan yang tidak pernah ditimbang dalam enam bulan terakhir cenderung meningkat dari 25,5 persen (2007), 23,8 persen (2010) menjadi 34,3 persen (2013). Dari data ini kita berasumsi bahwa posyandu masih memiliki banyak tantangan ke depan.

5.Demikian pula dengan ASI Eksklusif,persentase pemberian ASI eksklusif dalam 24 jam terakhir dan tanpa riwayat diberikan makanan dan minuman selain ASI pada umur 6 bulan hanya mencapai 30,2 persen.

Ini hanya sedikit dari sekian banyak indikator kesehatan masyarakat dalam riskesdas 2013. Banyak indikator lain tetapi indikator sttaus gizi balita penting untuk diangkat mengingat status gizi merupakanfaktor yang berpengaruh pada kualitas SDM. Bagaimana mencetak SDM yang cerdas, kreatif, inovatif dan produktif? sangat ditentukan oleh kualitas status giazi hari ini dan balitasebagai periode penting tumbuh kembang anak jika tidak tertangani dengan baik akan mengurangi kualitas SDM kelak.

Data riskesdas 2013 menunjukkan KIA masih harus menjadi fokus utama pembangunan kesehatan. Usaha penyehatan bangsa di negeri ini masih menempuh jalan panjang, aspek promotif dan preventif harus menjadi garda terdepan, promosi kesehatan masih harus terus digalakkan, pemberdayaan masyarakat, bina suasana dan advokasi tak boleh berhenti.Ini tugas berat, tentu saja! Karena itulah kita ada, itulah sebuah kalimat yang selalu ada pada hampir setiap postingan di sebuah milis PERSAKMI. Kalimat sederhana tetapi *inspiring_SKM !! Be a miracle: Sehat Bangsaku, Sehat Negeriku!!

Pustaka: Data Riskesdas 2013

*Latepost

Aksara Kesedihan

Kesedihan...
Kau boleh punya beragam wajah..
Tapi aku bisa memolesmu dengan senyum merekah..

Kesedihan..
Kau boleh punya banyak cerita..
Tapi aku berharap episodenya berujung bahagia..

Kesedihan...
Kau boleh saja mengundang lara...
Pertanda relung terdalam masih berasa..

Kesedihan..
Kau boleh saja menyisakan duka..
Bukan berarti tak akan sirna...

Kesedihan..
Kau tak akan mendekapku lama..
Karena kasih sayang-Nya begitu nyata..

"Ya Allah...Rahmat-Mu aku harapkan...janganlah Engkau serahkan segala urusanku kepada diriku sendiri walau sekejap mata...perbaikilah segala urusanku... tiada Ilah yang berhak disembah selain Engkau...”(HR Abu Dawud)

Pendidik Utama (Part 1)

Apalah artinya ilmu jika hanya menjadi buah bibir dan tumpukan lembaran kertas bertulis teori-teori indah di atas meja. Apalah artinya ilmu jika hanya menjadi pemuas dahaga intelektual akal tanpa aktualisasi nyata. Apalah artinya ilmu jika hanya menjadi lambang kearifan dan status sosial nan penuh kepalsuan.

Aku, kamu dan dia sungguh jengah dengan potret pendidikan hari ini. Di semua tingkatan pendidikan kita, tengoklah apa yang terjadi pada anak usia dini, air mata belum kering menyaksikan predator seksual melakukan tindakan biadab pada anak-anak itu. Truma membekas hebat pada jiwa-jiwa suci tak berdosa http://megapolitan.kompas.com/read/2014/10/13/1500242/Seto.Korban.Pencabulan.di.JIS.Alami.Trauma.karena.Tindakan.Asusila. Tengoklah pendidikan dasar, betapa mereka begitu tega melakukan kekerasan dan pengoroyokan menganiaya teman sebaya tanpa belas kasihan http://m.tempo.co/read/news/2014/10/13/058613861/Kasus-SD-Bukittinggi-Tim-Pencari-Fakta-DiturunkanTengoklah pendidikan menengah metapa mereka begitu lincah merekam adegan dewasa dengan menjadi aktor dan artisnya sendiri http://www.tribunnews.com/regional/2014/10/23/video-mesum-siswi-smp-diunggah-ke-situs-youtubeTengoklah pendidikan atas, remaja dan dunianya tak mau kalah dengan potret buramnya, kekerasan (tawuran), free seks, aborsi menghiasi warna warni pemberitaan tentang mereka di media sehari-hari  http://health.liputan6.com/read/2062737/sepertiga-kasus-aborsi-dilakukan-siswi-sma. Cukup!!! Kita hanya perlu membuka google dan menemukan seabrek data dan fakta yang demikian.

Semua prihatin, lembaga pendidikan menjadi sorotan, pilar utama pendidikan guru dan tenaga pendidik lainnya menjadi sorotan. Guru di tanganmu peradaban besar akan di torehkan jika keberhasilan mentransfer ilmu dan pengetahuan berhasil melekat kuat pada anak didikmu. Ilmu ini akan berbuah indah andai apa yang diajarkan dan tertanam kuat dalam diri-diri mereka, tidak hanya di bibir, singgah di otak, tapi hingga ke hati dan berpengaruh pada perilaku mereka.

Tapi tunggu, benarkah keberhasilan pendidikan hanya ada ditangan para guru? Hmm mari merenungkan kembali bukankah sejak lama telah tertoreh bahwa pendidik pertama dan utama itu adalah ibu? Perempuan dengan gelar kemuliaan "ibu" telah terukir fungsi dan peranan utamanya sebagai pendidik utama. Peranan besar dan penting ini disadari betul oleh R.A. Kartini tokoh legendaris yang mengutarakannya dalam sebuah surat kepada Prof. Anton dan istrinya : “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902].

Ibu benarlah kemuliaanmu terletak pada keberhasilan mendidik generasi, dengan berbekal ilmu seorang ibu wajib memiliki kemampuan sebagai pendidik  utama, sebagai orang terdekat karakter ibu akan mengalir pada anak-anaknya. Ibu...bahkan sejak awal abad ke 19 seorang perempuan Indonesia telah menoreh dalam tatanan sejarah bahwa perempuan berpendidikan wajib tercerdaskan dengan memiliki satu tujuan agar mereka mampu melaksanakan fungsi dan kewajiban utamanya. Sebagai pendidik dan madrasah pertama. Rusaknya perempuan bisa menjadi barometer rusaknya masyarakat, ahh sejak dulu qoutes ini sangat familiar. Kita tentu tak berbeda pendapat.

Pertanyaannya apakah kini peranan dan fungsi sebagai pendidik utama ini sdh terlaksana dengan baik? Jika tidak mungkin ini jawaban untuk semua permasalahan diatas. Mari me-reposisi kembali peranan ibu sebagai pendidik pertama dan utama dalam masyarakat.*bersambung....

Sabtu, 18 Oktober 2014

Benarkah Memberikan ASI Eksklusif Sangat Sulit?

Beberapa waktu ini secara kebetulan beberapa kerabat dan handai tolan dekat di karunia bayi-bayi cantik dan sehat alias baru saja lahiran. Sebagai bentuk ikut merasakan kebahagiaan mereka maka menjenguk bayi-bayi mungil dan ibu yang baru yang baru lahiran itu kami lakukan. Sebagai pemerhati masalah kesehatan masyarakat khususnya kesehatan ibu dan anak (KIA) maka dibalik kebahagian terselip keprihatinan. Dari lima bayi-bayi yang kami kunjungi hanya satu bayi yang tetap mendapatkan ASI eksklusif tanpa bantuan susu formula. Pertanyaanya benarkah memberikan ASI eksklusif sangat sulit? 

Pertanyaan ini mungkin muncul dari ibu yang memiliki bayi yang berusia di bawah enam bulan. Bayi ibu mengalami pertumbuhan yang signifikan pada enam bulan pertama, masa pemberian ASI ekslusif dan bayi akan tumbuh optimal jika diberikan makanan terbaik yaitu ASI. Setelah masa ASI eksklusif pertumbuhan bayi dan balita ditentukan oleh kualitas makanan tambahan yang diberikan. ASI eksklusif masih menjadi tantangan tersendiri bagi ibu pasca melahirkan, mempertahankan konsumsi bayi hanya ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain ternyata bukan hal yang mudah. Demikian kenyataan di lapangan.

Banyak sudah hasil penelitian yang memaparkan faktor yang menyebabkan sulitnya pemberian ASI eksklusif, mulai dari produksi ASI kurang, bayi tidak bisa mengisap karena puting susu ibu bermasalah, ibu bekerja, pengaruh promosi susu bayi yang begitu gencar, ditambah lagi pengetahuan yang kurang akan metode laktasi yang baik dan benar. Sungguh disayangkan jika enam bulan pertama masa awal kehidupan yang menentukan kualitas hidup bayi di masa mendatang ini terlewatkan. 

Tumbuh kembang bayi dapat diukur. Ukuran yang bisa digunakan untuk menggambarkan tumbuh kembang pada usia menyusui ialah pengukuran berat badan (BB) dan panjang badan (PB) bayi. Pada bayi yang lahir cukup bulan, normalnya setelah usia lima bulan BB bayi bertambah menjadi dua kali BB lahir, pada usia satu tahun menjadi tiga kali BB lahir, dan pada usia dua tahun menjadi empat kali BB lahir. Di masa 0-6 bulan, pada triwulan I kenaikan BB yang baik 700-1000 g/bln, dan pada triwulan II 500-600 g/bln. Dalam sebuah riset yang dilakukan di wilayah pesisir Wakorumba Buton Utara pada 32 sampel bayi berusia 7-12 bulan nampak jelas perbedaan yang antara berat badan dan panjang badan pada bayi ASI Eksklusif dan Non ASI Eksklusif. Begitu pula dengan penyakit infeksi, bayi dengan ASI Non Ekslusif lebih rentan terhadap penyakit infeksi.

Kita semua tahu bahwa pemberianASI sampai kapan pun tak tergantikan, penyebab kegagalan pemberian ASI sebagai makanan pertama dan utama bayi bisa beragam, kualitas dan kuantitas makanan ibu, pengaruh fisik dan psikologis ibu, stress, ketenangan, ketegangan, kesiapan mental ibu dan pemberian makanan selain ASI terlalu dini. Kemampuan laktasi ibu memang berbeda-beda tetapi mempersiapkan ibu agar bisa memberikan ASI eksklusif memang harus direncanakan dan dipersiapkan. Pengetahuan ibu akan ASI, cara pemberian ASI, kualitas ASI, dukungan keluarga semua harus dipersiapkan sejak sebelum kelahiran bahkan penting untuk semua calon ibu. Sebagai lautan kehidupan, harapannyaibu memegang peranan penting jika berhasil membina dan memelihara laktasi dengan kondisi kesehatan yang baik ASI Eksklusif bagi bayi terpenuhi hingga jangka waktu enam bulan. Alangkah indahnya!

#Catatan kecil

#Untukmu  bunda dan calon bunda

#Persiapkan diri sebaik mungkin menjadi bunda :)

salam sehat
@tatikbahar

Jadikan Tulisan Sebagai Kado Terindah


#Prolog
“Tidak ditemukan jalan lain bagi dua orang yang saling mencintai selain menikah” (HR. Ibnu Majah)

Sayangku…
Lihatlah hari tersenyum ramah menyapa..
Malam melantunkan lagu bahagia..
Senyum manismu begitu mempesona..
Tak sanggup diri sembunyi rona bahagia..

Sayangku…
Cantikmu dalam pesona keanggunan..
Merayu rindu dalam khusyu’ pengharapan..
Memadu jiwa dalam bingkai keberkahan..
Mitzaqan ghalizah dalam ikrar pernikahan..

Sayangku…
Penantian ini berujung bahagia..
Allah telah memberi karunia cinta..
Memikul amanah penguasa rasa..
Pelengkap agama menuntun ke surga..
Semoga terjaga sepanjang masa…
Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fii khair .. aamiin :)


‪#‎Smile‬
Sahabatku menikah hari ini, dan kado terbaik adalah tulisan, mengabadikan momen bahagia dalam keajaiban kata. Ahh bahagianya melihatnya bahagia ^_^


Kendari, 18102014
@tatikbahar